Kalau kamu masih menganggap donghua itu “anime versi China”, berarti kamu sedang menyederhanakan sesuatu yang seharusnya tidak disederhanakan. Donghua bukan tiruan. Donghua adalah industri yang sedang naik kelas dan yang menarik, ia naik kelas dengan cara yang berbeda dari Jepang.
Anime memang sudah lama jadi raja. Ia punya sejarah, kultur global, studio legendaris, dan fanbase yang sudah terbentuk puluhan tahun. Tapi donghua datang bukan sebagai penonton tambahan. Donghua datang sebagai pesaing yang serius dibekingi platform besar, produksi agresif, dan sistem distribusi digital yang sangat paham cara memelihara hype.
Dua-duanya sama-sama animasi, tapi menyamakan anime dan donghua cuma karena bentuknya gambar bergerak itu seperti menyamakan semua bisnis hanya karena sama-sama jualan. Yang menentukan itu bukan kulitnya. Yang menentukan itu mesinnya: cara bercerita, budaya yang dibawa, pola produksi, dan strategi industrinya.
Kalau kamu ingin jawaban yang benar bukan jawaban tipis ala konten copy paste kita harus membongkar perbedaannya dengan cara yang tajam. Dan setelah kamu paham, kamu akan sadar: anime dan donghua itu bukan “serupa”. Mereka “berdekatan”, tapi bukan sama.
Ini Bukan Sekadar Negara
Perbedaan anime dan donghua memang dimulai dari asal kalau anime dari Jepang, donghua dari China. Tapi kalau cuma berhenti di situ, kamu belum mengerti apa-apa. Karena asal bukan hanya label negara—asal itu menentukan cara berpikir kreator, gaya cerita, bahkan hal-hal kecil seperti cara karakter bicara dan bertindak.
Anime dibentuk oleh budaya manga dan tradisi studio. Ia tumbuh perlahan, kuat lewat kualitas, dan matang lewat eksperimen. Donghua dibentuk oleh web novel, manhua, serta ekosistem internet yang menuntut cerita cepat, intens, dan punya efek “nagih”.
Karena itu, anime sering terasa seperti film. Donghua sering terasa seperti serial yang dibuat untuk membuat kamu menekan tombol next episode tanpa mikir. Keduanya sah. Tapi rasa itu bukan kebetulan. Itu hasil dari mesin industri.
Satu lagi yang penting bahwa anime sudah mapan. Donghua sedang lapar. Dan industri yang lapar biasanya bergerak lebih agresif.
Bahasa Itu “Rasa”, Bukan Detail
Orang sering meremehkan faktor bahasa. Padahal bahasa adalah bumbu utama. Anime memakai Jepang, donghua memakai Mandarin. Dan perbedaan ini langsung mengubah pengalaman menonton, terutama bagi penonton yang sudah lama dibesarkan oleh anime.
Bahasa Jepang punya ritme yang cocok untuk drama emosi dan ekspresi karakter. Ditambah kultur seiyuu yang sangat kuat—voice actor di Jepang bukan sekadar pengisi suara, tapi aset industri. Banyak karakter hidup karena suaranya.
Mandarin terdengar lebih tegas, cepat, dan “berat”. Cocok untuk donghua yang dominan cultivation, duel, penghinaan, balas dendam, dan hierarki kekuatan. Dialog donghua lebih seperti “perang psikologis” dibanding “drama emosi”.
Ini sebabnya donghua sering terasa lebih “keras” dan “langsung”. Dan buat sebagian penonton, itu bukan kelemahan—itu justru daya tarik.
Donghua Tidak Sabar, Anime Lebih Sabar
Ini inti yang paling nyata: anime biasanya sabar membangun emosi. Donghua biasanya tidak sabar dan tidak mau buang waktu. Dan itu bukan kritik. Itu strategi.
Anime bisa menghabiskan satu episode untuk memperlihatkan perkembangan karakter. Bahkan diamnya karakter bisa menjadi cerita. Ada ruang untuk jeda, ruang untuk atmosfer, ruang untuk penonton merasakan.
Donghua lebih sering bergerak seperti mesin. Konflik dipercepat. Power-up dipercepat. Balas dendam dipercepat. Karena donghua membawa pola web novel yang terkenal dengan progression cepat: dihina → naik level → membalas → naik lagi → menaklukkan.
Makanya kalau kamu suka cerita yang cepat panas, donghua itu candu. Tapi kalau kamu butuh kedalaman emosi, anime biasanya lebih unggul. Ini bukan soal mana yang lebih baik. Ini soal gaya yang berbeda.
Genre Donghua Itu “Keras Kepala”
Anime menang besar karena variasi. Ada slice of life, romcom, horror psikologis, drama keluarga, politik futuristik, sampai cerita abstrak yang bikin pusing. Jepang memberikan ruang bagi kreator untuk bermain di spektrum yang sangat lebar.
Donghua, terutama yang terkenal secara global, lebih dominan cultivation (xianxia/wuxia) dan action fantasy. Dan dominasi genre ini membentuk identitas donghua jadi sangat khas: dunia sekte, hierarki kekuatan, spiritual power, duel, dan kompetisi yang brutal.
Buat sebagian orang, ini terasa repetitif. Tapi di sisi lain, ini yang membuat donghua punya “signature”. Seperti genre gangster di film: polanya mirip, tapi fans tetap suka karena sensasinya.
Yang membuat donghua kuat adalah: ia tahu siapa penontonnya. Donghua menembak niche besar dengan sangat serius. Dan itu strategi yang jarang gagal.
Visualnya Sama-sama Keren, Tapi “Seni”-nya Berbeda
Keduanya sama-sama cantik. Tapi cara mereka membangun visual berbeda. Anime sering kuat di framing, komposisi, dan ekspresi. Ia memberi ruang untuk detail sinematik. Bahkan adegan sederhana bisa terasa punya rasa artistik.
Donghua lebih sering kuat di efek besar dan kamera dinamis. Pertarungan dibuat meledak. Dunia dibuat megah. CGI dipakai lebih sering untuk membuat skill effects dan movement terlihat modern.
Kelemahannya? Kadang CGI terasa terlalu digital dan mengurangi rasa “hangat” yang biasa dicari fans anime. Tapi kelebihannya jelas: donghua bisa tampil sangat wah dan sangat “game-like”.
Intinya: anime kuat di seni visual, donghua kuat di spectacle.
Mesin Industrinya Berbeda Total
Ini bagian yang jarang dibahas, padahal ini akar yang menentukan semuanya.
Anime Jepang berjalan lewat sistem komite produksi: studio, publisher, label musik, sponsor TV, dan merch. Ini membuat anime stabil, tapi jalannya birokratis. Banyak keputusan harus lewat banyak pihak.
Donghua China tumbuh dari platform: Tencent Video, Bilibili, iQIYI, Youku. Platform itu punya modal besar, algoritma, data penonton, dan kontrol distribusi. Mereka bisa memaksa industri bergerak cepat dan rilis rutin.
Model ini mirip pola baru di struktur bisnis indonesia. Banyak bisnis Indonesia juga bergeser dari sistem tradisional ke sistem platform: marketplace, ekosistem digital, dan model komunitas. Yang menguasai distribusi biasanya menang besar.
Makanya donghua bisa naik cepat. Karena ia tidak berjalan di jalur lama.
Regulasi Itu Rem, Tapi Juga Arah
Donghua hidup di sistem regulasi yang lebih ketat. Banyak tema harus dipilih hati-hati, beberapa hal harus disampaikan lewat simbol, dan ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Anime Jepang lebih bebas mengeksplor tema gelap dan kontroversial. Itu sebabnya anime punya ruang besar untuk cerita psychological dan horror ekstrem yang tidak selalu muncul di donghua.
Tapi justru karena “rem” ini, donghua sering jadi kreatif. Banyak donghua menjadi pintar menyusun konflik lewat intrik, strategi, dan permainan kekuasaan, bukan sekadar shock value.
Jadi regulasi bukan cuma pembatas. Ia juga membentuk gaya narasi.
Kesimpulan Tegas
Anime dan donghua itu bukan musuh, tapi juga bukan kembar. Mereka berdekatan tapi punya mesin berbeda.
Anime unggul dalam kedalaman emosi, variasi genre, dan tradisi artistik yang matang. Donghua unggul dalam pace cepat, dunia cultivation yang masif, serta dukungan platform digital yang agresif.
Dan satu hal yang harus kamu buang jauh-jauh: donghua bukan anime KW. Donghua adalah industri yang sedang memantapkan diri sebagai raksasa baru.
Kalau kamu tahu bedanya, kamu akan nonton dua-duanya dengan cara yang lebih cerdas. Dan kamu tidak akan lagi menyamakan keduanya hanya karena sama-sama animasi.
